Kebermaknaan Kata dan Kita

Apa kaitan makna kata dengan memasarkan suatu produk dan kita sebagai pribadi? Kalau makna dengan kata, kita sudah biasa menemukan relasi di antara kedua fenomen alam itu. Makna, dalam semantik, merupakan pertalian bentuk (kata, ekspresi) dengan referennya di dunia nyata berdasarkan konsep tertentu yang ada di benak penuturnya. Sifat yang mewakilinya (kata) selalu arbiter, sementara yang diwakilinya(referen) lebih universal. Namun, agar bentuk dapat diterima oleh para penutur bahasa, konsep dan kesan nonlinuistisnya harus dikonvensikan atau terkonvensi. Dengan demikian, terjadi kesepakatan dalam pemaknaan dan dapat digunakan untuk berkomunikasi di antara penutur-penuturnya. Lebih lanjut, kata atau bentuk bahasa apa pun kini menjadi bermakna. oleh Kebermaknaan bisa berubah menjadi negatif atau positif bergantung pemaknaan yang diberikan si pemilik bentuk dan respon dari anggota penutur lainnya seiring dengan bergeraknya waktu.

Referen dalam dunia nyata bisa ditafsirkan maknanya di luar dari hakikat referen itu. Dalam dunia pemasaran, penafsiran makna atau pemaknaan tambahan ini bermanfaat dalam menciptakan produk yang diinginkan oleh penutur. Berdasarkan makna tambahan itu, diciptakan produk yang selaras. Kasus berbagai merek telefon genggam asal Cina, yang marak menyerbu pasar telefon genggam domestik, merupakan fenomen nyata dari penciptaan produk baru berdasarkan pemaknaan tambahan.

Kemunculan telefon genggam bermodel qwerty asal Amerika takpelak merupakan terobosan dalam dunia telefon genggam yang “konvensional”. Dalam waktu singkat, telefon genggam ini memiliki kebermakmanaan yang kuat dalam masyarakat. Banyak orang, yang bukan pasar sasarannya, juga ingin mendapatkannya. Harga yang ditawarkan memang mahal hingga tidak semua orang dapat membelinya. Bagi sebagian penutur (masyarakat), harga yang mahal menjadi kendala dalam memperoleh produk tersebut. Sebenarnya, perbedaan utamanya terletak pada fokus kemudahan “email”. Namun, sebagian masyarakat melihat keistimewaan produk ini bukan itu, melainkan gengsinya. Sayang, ya itu tadi, harga tidak terjangkau. Pemaknaan tambahan tersebut yang ditangkap oleh produsen produk telefon genggam asal Cina. Dengan melihat referen hakikinya, yakni bentuk telefon yang besar gepeng dan yang terpenting bertombol dengan tata letak kuerti, diciptakanlah telefon genggam bertata letak tombol qwerty dengan harga terjangkau.

Referen baru telah hadir di pasar telefon genggam domestik, termasuk Indonesia, yakni telefon genggam bertata letak qwerty dengan harga terjangkau dan fitur yang tidak sama dengan referen pendahulunya (tidak berbasis email lagi). Konsep yang ada di benak penutur jelas berbeda pula. Demikian juga bentuk atau ekspresi katanya. Bagaimana dengan kebermaknaanya?  Dalam lingkungan “penutur/pemakai/khalayak sasarannya”, telefon genggam asal negeri Cina ini memang bermakna, memiliki nilai “gengsi” karena berbentuk dan bertata letak tombol qwerty, serta berharga terjangkau pula. Bahwa kebermaknaan tersebut begitu signifikan terbukti dengan laris manisnya pemasaran produk-produk tersebut selama 1-2 tahun terakhir ini. Begitu larisnya hingga baik produsen maupun importir berlomba-lomba menciptakan dan mendatangkan merek-merek baru dengan referen yang tiada beda. Hanya di sisi bentuk (ekspresi kata, baca merek) yang berbeda.

Di sisi lain, referen yang berbeda, dengan titik tolak referen yang pertama (produk asal AS) dan referen yang kedua (produk asal Cina), mulai diciptakan oleh penutur pesaing akhir-akhir ini. Muncullah produk-produk telefon genggam bertata letak tombol qwerty pula dengan harga medium. Konsep atau nilai nonlinguistis atas referen dan bentuk (ekspresi kata) jenis produk ini berbeda: lebih berkualitas dari produk kedua. Mengapa? Karena produsennya telah memiliki citra nonlinguistis yang bagus dalam benak penutur. Jadi, tak mengherankan jika kebermaknaan produk terakhir ini lebih “baik” dipandang oleh penutur yang semula mengakui kebermaknaan telefon genggam asal Cina. Akibatnya,  produk asal Cina mulai terganggu penjualannya. Terbukti mereka akhir-kahir ini terus menurunkan harga jualnya.

Ihwal kebermaknaan tampak harus diperhatikan jika kita hendak bertahan atau sukses di pasaran. Bagaimana mempertahankannya? Orang-orang dalam dunia pemasaran tentu lebih mengerti. Yang ingin disampaikan di sini bahwa kebermaknaan atas suatu bentuk (ekspresi, kata) bisa berubah seiring waktu. Jika  ingin tetap “bermakna”, kita pun yang memiliki bentuk (ekspresi, lewat nama-nama diri kita) harus memaknai hidup kita dengan prerilaku-perilaku yang positif. Dengan demikian, kebermaknaan kita terus eksis di kalangan penutur.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.