Memaafi

Tidak lama lagi Lebaran datang. Tidak lama lagi pula kata-kata bersuasana Idulfitri ramai kita pakai. Salah satu di antaranya adalah niscaya kata “memaafkan”. Kebetulan kata ini berimbuhan me-/-kan, suatu imbuhan yang sering tertukar-tukar pemakaiannya dengan imbuhan “me-/-i”. Jadi, ada apa pula dengan kata “memaafkan”.

Andai saja kita hanya memiliki imbuhan me-/-kan atau sebaliknya hanya mempunyai afiks me-/-i, kita tidak akan kesulitan memilih mana yang harus dipakai: me-/-kan atau me-/-i, misalnya, dalam kaitannya dengan dasar “tugas” atau “nama”. Dengan “me-/-kan” menjadi “menugaskan” dan “menamakan” atau dengan “me-/-i” menjadi “menugasi” dan “menamai”, kedua pasangan  itu terterima dalam kosa kata kita. Namun, jika diterapkan dalam kalimat berobyek, pusinglah kita: menugasi murid-murid atau menugaskan murid-murid? Demikian pula “menamai anaknya” atau “menamakan anaknya”? Di sisi lain, dalam ragam takbaku, dasar-dasar tersebut hanya “perlu” imbuhan “-in”, bebas, tanpa harus khawatir salah pakai. Namun, bukankah bahasa ragam baku kita, dengan demikian, memiliki imbuhan yang lebih lengkap dan akurat?

Masalahnya bagi penutur asli, apalagi orang asing, kontras seperti dalam “menamakan-menamai” dan “menugaskan-menugasi” sudah tidak terasakan lagi. Bahkan, untuk kontras “menamakan-menamai”, Sutan Takdir Alisjahbana, seorang tata bahasawan ternama, (1980, juga Badudu dan Keraf) menyatakan pemakaian akhiran -kan dan “-i” dapat dipertukarkan. Jadi, tidak mengherankalah jika kita sering bingung pula menghadapi perilaku “me-/-kan” dan “me-/-i” ini.

Kalau kita amati, kontras yang tidak terasa oleh bahasawan dalam kaitannya dengan imbuhan “me-/-kan” dan “me-/-i” adalah saat kita menghadapi dasar kata benda. Komputer (otak) bagian gramatika dan semantis kita entah mengapa selalu kesulitan mengidentifikasi kapan kita harus mempergunakan “menamai”, kapan harus memakai “menamakan”? Sudah pasti persoalan pelik itu tidak mungkin bisa dijawab dalam tulisan ini. Fenomen tersebut tentu memerlukan penelitian yang mendalam hingga ini pekerjaan rumah bagi penelitian psikolinguistik kita.

Demikianlah kata “memaafkan”,  yang telah begitu hidup dengan “tenang” dalam masyarakat kita, juga berdasar kata benda, yakni “maaf”. Kata “memaafkan” bukanlah “salah” secara morfologis. Namun, dalam pemakaiannya untuk struktur yang lebih besar (kalimat, misalnya) akan tampak bahwa ada kejanggalan. KBBI edisi IV halaman 852 menjelaskan “memaafkan” dengan ‘memberi ampun atas kesalahan dsb’; ‘tidak mengganggap salah dsb lagi’: ia telah memaafkan kesalahanku”. Imbuhan me–kan dalam “memaafkan”, tepatnya, akhiran “-kan”-nya merupakan transformasi dari preposisi “akan”; setipe dengan merindukan, menyayangkan, menyesalkan, dan menginginkan.
Jadi, semula bentuknya, “memaaf akan”. Sebab itu, contoh kalimat dari KBBI IV tadi tepat: “memaafkan kesalahanku” dengan makna gramatikal ‘memberi maaf akan kesalahanku”. Problemnya kini pemakaian yang subur dalam masyarakat adalah konstruksi “memaafkan” yang menyimpang:
* “… memaafkan cucunya”
* “… memaafkan anak-anaknya”

Konstruksi dengan obyek berperan penerima (reseptif: cucunya/anak-anaknya) sejatinya didahului oleh kata kerja berimbuhan “me-/-i” (“memaafi”). Bandingkan dengan “menamai anaknya”, “menugasi saya”, “mengizini murid-murid”, “menyalami guru-guru”, dst. Imbuhan me-/-i” di sini bermakna gramatikal ‘memberi D (dasar) kepada O (obyek: anaknya, saya, murid-murid, guru-guru). Penjelasan ini selaras dengan pemerian makna leksikal “memaafi” dalam KBBI IV halaman 852, yakni ‘memberi ampun kepada’: “Tuanku memaafi hamba yang hina ini”. Yang menjadi masalah kata “memaafi” memang terasa asing bagi kita meski secara morfologis takada yang salah dan KBBI IV pun sudah mencatatnya. Namun, bukankah alah bisa karena biasa?

Kata “memaafkan” lebih tepat digunakan dalam konteks dengan obyek berperan bukan penerima (obyektif): “memaafkan semua kejahatannya”, “memaafkan kelakuan anaknya”, “memaafkan kesalahan orang lain”, dst dengan makna gramatikal ‘memberi maaf akan O’.

Masih belum lekang dalam ingatan kita, beberapa tahun yang lalu rekan-rekan dari kalangan media dengan mantap memutuskan menggunakan bentuk “memenangi” alih-alih “memenangkan” dalam konteks “memenangi kejuaraan”. Usaha tersebut kini menampakkan hasil walaupun saya pribadi justru kurang cocok dengan bentuk “memenangi” dalam konteks “memenangi pertandingan/piala dunia”, dll. Lain kesempatan saya akan mengemukakan argumentasi ketidaksetujuan itu. Lepas dari masalah tersebut, peran media massa, terutama media-media besar, sangat besar dalam menentukan sikap bahasawan dalam kegiatan berbahasanya. Jadi, bagaimana dengan bentuk “memaafi”?

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.