Tukang Ojek dan Sopir Bemo
Yanwardi
Ini sebuah persoalan remeh, bagai remah-remah mungkin. Namun, siapa sangka gejala penamaan seperti tukang ojek dan supir bemo ini berjalan dengan mulus dari kognisi (pikiran) kita. Artinya, kita tidak pernah mempermasalahkan mengapa pengemudi bemo disebut “supir bemo”, sedangkan pengemudi ojek dinamai “tukang ojek”. Tidak seperti proses pembentukan kata atau kelompok kata lainnya yang sering antara satu penutur bahasa dengan penutur lainnya berbeda paham. Akibatnya, tidak jarang tidak terterima bentukannya, atau paling kurang menjadi polemik.
Pengalaman dalam Pikiran
Pikiran kita dalam memorinya menyimpan berbagai pengalaman. Dengan bahasa, kita bisa memanggil kembali dan memanfaatkannya untuk konsep lain. Dalam tulisan ini, hanya akan dijabarkan satu jenis pemanfaatan pengalaman yang disimpan dalam pikiran manusia, yang kemudian diwujudkan dalam bentuk penamaan.
Bersyukurlah kita. Sebagai makhluk hidup, hanya kita, manusia, yang dibekali oleh Tuhan kemampuan akan berbahasa. Terlalu banyak manfaat dan sebaliknya kerugian jika kita (tak) dikaruniai bahasa. Mulai dari kemampuan menyampaikan gagasan, maksud, hingga yang rumit dan sangat pribadi, seperti berpikir dan berkhayal, manusia selalu menggunakan bahasa.
Dalam konteks yang sangat sederhana, yakni penamaan akan sesuatu yang kita alami, juga kita memanfaatkan bahasa. Bagaimana bahasa ini, lewat pemanfaatan penamaan, bisa memudahkan kehidupan manusia tampak dalam kenyataan sehari-hari. Khusus tulisan ini, hanya akan diangkat keunikan penamaan yang berkaitan dengan ‘seseorang yang berprofesi mengemudi/mengendarai suatu kendaraan jenis transportasi darat’. Penutur bahasa Indonesia dengan mulusnya bisa menamai ‘pengemudi ojek dengan tukang ojek’. Sebaliknya, “pengemudi bemo” disebut sopir bemo; dan pengemudi bajaj bisa dipakai tukang bajaj dan sopir bajaj. Yang menjadi pertanyaan, mengapa antara satu penutur (bahasa Indonesia) dengan penutur lainnya otomatis sepakat dengan hasil penamaan itu. Tanpa ada perdebatan.
Pengalaman, jawabannya. Pengalaman yang diperoleh para penutur bahasa (Indonesia) adalah sama kala memandang fenomena tersebut.
Penataan Pengalaman
Pikiran dan bahasa begitu erat berkaitan. Tanpa mempersalahakan yang mana yang paling dominan, tampak pikiran kita menata pengalaman-pengalaman dalam wujud bahasa. Ditata, dikategorikan pengalaman tersebut untuk digunakan kembali oleh manusia saat diperlukan. Berkaitan dengan ihwal tersebut, tampak wujud konkretnya dalam penamaan ‘seseorang yang berprofesi mengemudi/mengendarai kendaraan bermotor jenis transportasi darat’. Penutur bahasa Indonesia menata dan mengategorikan pengalamannya ke dalam sekurangnya tiga kelompok.
- Sopir (sopir bus, sopir taksi, sopir mikrolet, sopir bemo, sopir bajaj): penamaan dengan kata “sopir” umumnya merujuk pada kendaraan –yang dikemudikannya—beroda minimal tiga dan alat kemudinya adalah “setir”, kecuali “bajaj” (setang)
- Tukang (ojek dan bajaj): penamaan dengan kata “tukang” mengacu pada kendaran roda dua atau tiga dengan alat kemudi setang.
- Tukang (bajaj) sekaligus sopir (bajaj): agaknya keunikan pada konteks kendaraan bajaj terwujud pada cara memandang pikiran kita pada kenyataan bahwa bajaj memiliki roda lebih daripada dua tapi alat kemudinya berupa setang.
Pengatekorian ke dalam kelompok-kelompok itu tampak terutama didasarkan pada jumlah roda dan jenis alat kemudinya. Kata sopir harus dalam konteks kendaraan yang beralat kemudi setir. Dari segi bunyi, kelihatan di antara kata “sopir”dan “setir” juga memiliki kemiripan. Jumlah roda juga harus lebih dari dua. Dua faktor itu dipenuhi oleh semua kendaraan bermotor yang pengemudinya dipanggil “sopir”, kecuali “bajaj” (alat kemudinya, setang). Akan halnya keunikan “bajaj” (beroda tiga tapi beralat kemudi setang) dipandang oleh pikiran kita dengan penamaan yang unik pula, yakni bisa “sopir”, bisa “tukang”.
Sementara itu, ciri ojek, yakni kendaraan motor beroda dua dengan alat kemudi setang, tidak membuat pikiran kita “bingung”. Dengan mantap, dinamailah pengendara ojek dengan “tukang ojek”.
Penutup
Pandangan dalam tulisan ini bisa disebut hipotesis. Hal ini merupakan pandangan awal yang memperlihatkan pikiran manusia menata pengalamannya dalam wujud berbagai gejala bahasa. Perlu diteliti lebih jauh hipotesis ini dengan kerangka penelitian yang lebih luas.
