Naik “Busway”

Benarkah kalimat “Saya naik busway” tidak logis? Jika itu tidak logis, mengapa kita semua dapat mengerti dan memahami makna kalimat tersebut, bahkan tanpa taksa (ambigu) lagi. Juga mengapa konstruksi yang lebih dianggap “benar”,  misalnya, “Saya naik bus Transjakarta” justru kalah bersaing? Pertanyaan-pertanyaan itu sederhana dan cenderung naif, tapi konsekuensinya  sangat mendalam dan mengusik pendekatan formal yang selama ini lebih sering digunakan para ahli bahasa kita.

Semua dari kita tentu menafsirkan makna kalimat “Saya naik busway” dengan ‘saya menumpang bus yang beroperasi di jalur khusus’, bukan dengan “Saya naik jalur/jalan  bus khusus”. Secara pragmatis, komunikasi di antara penutur dan petutur juga tidak terganggu. Tidak akan ada yang memaknai “busway” dengan ‘jalur bus khusus’. Dengan perkataan lain,  keambiguan juga tidak terjadi  dalam kalimat itu.

Dengan pendekatan ilmu bahasa struktural, yang berdasarkan pada “kebenaran” acuan obyek yang diwakili kata “busway”, jelas konstruksi di atas “diharamkan”. Penggunaan kata “busway” di situ  tidak logis. Bagaimana mungkin “saya  naik “jalur bus khusus”?

 

Pikiran dan Bahasa

Manusia sebagai pemberi makna bisa mengonsepkan sesuatu yang belum pernah dilihatnya secara langsung. Berkat pikirannya, yang tertata dalam bahasa, seseorang  dapat membayangkan, misalnya, seekor kangguru yang belum pernah dijumpainya. Di sisi lain, pemaknaan sesuatu/peristiwa/seseorang bisa juga dilakukan oleh seseorang berkat pengalamannya secara langsung. Artinya, dia bertemu, mengalami, melihat, mendengar, merasa dengan inderanya sendiri.

Dengan pengonsepan pula, pikiran (kognisi) kita melakukan pembandingan/pengasosiasian sesuatu dengan hal lainnya (metafor) dan menyebut sesuatu hanya dengan ciri atau sebagian atribut yang bisa mewakili peristiwa/hal/benda/orang (metonim).

Istilah metafora dan metonimi, yang dicetuskan sejak zaman Aristoteles, tentunya sudah sangat dikenal oleh kita sejak duduk di bangku sekolah menengah. Dahulu, keduanya disebut sebagai gaya bahasa. Kini, seiring dengan pendekatan ilmu bahasa baru, yakni pendekatan kognitif, metafor dan metonim diberi makna baru sebagai cara berpikir manusia. Memang, dalam ragam apa pun, manusia membuat ujaran tidak akan pernah lepas dari metafor dan metonim serta gaya bahasa lainnya.

Kita telah terbiasa dengan membuat konstruksi metonim: “Sedang ambil atm (uangnya)”, “Dia sedang menelaah Sapardi (karyanya)”, “menjahit baju (bukan kain)”, ” menanak nasi (bukan beras)”, “ merapikan meja (bukan taplak meja)”,   “jam berhenti berdetak (bukan jarumnya)”, “ibu gemar menonton RCTI (acaranya)”,  “bapak berlangganan “Kompas” (korannya); atau konstruksi metafora:  “kepala sekolah”, “punggung gunung”, “merumput”, “mulut gawang”, “bintang lapangan”, “sontekannya tajam”,  “Indonesia menggilas Malaysia 6-0”,  “piawai mengolah bola”, “Indonesia dibekuk Yordania”, dan masih banyak lagi yang lainnya.

 

Busway dalam Pikiran Kita

Jauh sebelum bus Transjakarta  hadir secara fisik di Jakarta, masyarakat ibukota dan sekitarnya sudah mendengar kata “busway”. Ini disebabkan Pemda DKI rajin mengampanyekan sistem transportasi baru itu. Pikiran kita yang menangkap kata “busway” telah merekam kata tersebut sebagai “alat transportasinya”. Hal ini diperkuat pula dengan adanya leksikon kata “bus”, yang secara leksikal dan konseptual sudah memiliki pengertian tersendiri dalam pikiran kita. Sistem tata bahasa kita mengidentifikasi “bus” dalam “busway” sebagai intinya, sesuai dengan sistem kaidah DM bahasa Indonesia. Unsur “way” karena berasal dari bahasa asing yang belum tertanam kuat referennya di benak kita, terabaikan. Fokus pikiran penutur berada pada kata “bus”. Begitu kuatnya tertancap kata “busway”,  yang merujuk pada “bus” secara fisik, bukan pada referen “jalannya” terbukti hingga kini dengan adanya bentukan kata-kata: “pengemudi busway”, “sopir busway”, “hati-hati, jalur busway”, “halte busway”, “tertabrak busway”, dan “naik busway”.

 

Kita dan Metonimi

Ada pendekatan lainnya untuk menjelaskan fenomena “naik busway”.   Sebagaimana disinggung di atas, kita telah demikian akrabnya dengan metonimi. Gejala ini wajar dan universal dalam bahasa-bahasa di dunia. Pikiran manusia memandang alam dan pengalaman kehidupannya dalam wujud unsur-unsur bahasanya. Pengalaman ‘naik kendaraan yang bermerek Honda’ diujarkan menjadi “naik Honda”. Begitu pula pengalaman ‘membaca harian Kompas’ diwakili oleh ‘membaca Kompas”.

Akan halnya ujaran “saya naik busway”, dibuat oleh pikiran kita secara metonim, berdasarkan kedekatan/keterkaitan ruang (jalan dan bus). Dengan demikian, “busway” mewakili ‘kendaraan umum yang beroperasi di jalur/jalan bus khusus’. Di sis lain,  pikiran kita melihat dengan makna pragmatis pun komunikasi sudah tepat.  Tepat dimaksudkan dalam ragam tertentu. Sudah pasti untuk ragam baku, “saya naik busway atau Honda” adalah tidak tepat.

Bentuk-bentuk metonimi ini (juga metafora dan gaya bahasa lainnya) merupakan konvensi yang berlaku lazim di antara para penutur bahasa sehingga komunikasi tidak terganggu.  Bahkan, dalam pandangan linguistik kognitif, bahasa dipercaya tidak akan beroperasi tanpa gaya bahasa.  Kenyataan tersebut terbukti dalam berbahasa kita tak bisa lepas dari metonimi, metafora, sinekdoke, dan lain-lain.  Namun, kita sering tidak sadar bahwa kita sedang berujar, membuat kalimat dengan gaya-gaya bahasa tersebut. Agaknya begitu mendarah dagingnya metonimi, metafora, dan gaya bahasa lainnya di dalam pikiran manusia.  Alhasil, gaya-gaya bahasa itu bukan dimaknai seperti kala zaman Aristoteles lagi. Lebih daripada itu, dia kini dipandang sebagai metode atau cara berpikir manusia dalam memandang dunia makro dan mikro. Salah satu wujudnya adalah ujaran-ujaran  bahasa.

 

 

5 Responses to Naik “Busway”

  1. putra mengatakan:

    hi-hi lucu juga menyejajarkan naik busway sama naik honda & baca kompas. harusnya yang disejajarkan itu naik transjakarta dong. mangsalah yang sederhana dibikin-bikin jadi rumit sama penulisnya. begini ini nih mangsalahnya: orang yang bilang naik busway itu menyangka busway itu kendaraan bus. bukannya dikasuh tahu kalau salah eeh malah dibilang benar. hi-hi lucu.

  2. yan80 mengatakan:

    Jika yang disejajarkan adalah “naik busway” dengan “naik transjakarta”, jelas sebuah penyejajaran yang pincang. Yang satu menggunakan metafora, yang sejajar dengan “naik Honda”, dsb. Yang Anda sebutkan merupakan pemikiran langsung.

    Pendekatan secara langsung itu berkorelasi dengan pendekatan linguistik formal, sementara telaah atas metafora, metonimi, dan gaya bahasa lainnya merupakan bidang kajian linguistik kognitif, yang baru muncul secara nyata dan “resmi” tahun 1989. Tokoh-tokohnya, antara lain, Lakoff, Langaker, Levinson pada tahun itu membentuk sebuah asosiasi linguistik kognitif internasional.

    • putra mengatakan:

      Maaf ya yanbo jawabanya kurang nyambung.
      Saya hanya mau yang sedrhana saja, busway itu bukan nama, merk atau jenis bus, titik, bagaimana bisa dinaiki? Kalo Honda beda, memang bisa dinaiki karena Honda ‘kan merk. Kalo pakai kognitif-kognitifan, semua yang salah bisa jadi bener atuh…….

  3. yan80 mengatakan:

    Bro, Honda itu, nama diri, bila kita berpikir secara literal, juga tidak nyambung. Tidak mungkin dinaiki. Nah, cara berpikir (kognisi) dalam linguistik kognitif yang relevan dengan fenomena fundamental (ciri dasar manusia) dikenal, salah satunya, dengan metonimi. Istilah ini sejal zaman Aristoteles telah dikenal. Hanya sekarang, dipandang lebih dari sekadar gaya bahasa. Metonimi merupakan ciri kognisi dasar manusia dalam berbahasa. Kita mengonsepkan sesuatu berdasarkan kedekatannya. Ini suatu gejala yang universal dalam bahasa mana pun di dunia. Begitu, Bung, akh.

    • putra mengatakan:

      Semakin nggak nyambung saja nikh yanbo. Berpikir sederhana saja dekh tentang nama diri. Kalo yanbo nama kuda yang adalah nama diri, nggak ada salahnya kalo dikatakan bahwa saya naik yanbo. Kalo saya baca koran yang namanya kompas dan saya berkata bahwa saya baca kompas, juga nggak salah. Yang salah tukh kalo saya berkata bahwa saya baca gramedia, sebab gramedia bukan nama koran, tetapi penerbitnya. Kalo saya naik kereta-api senja utama dan berkata bahwa saya naik senja utama, juga enggak salah. Yang salah tukh kalo saya naik rel ato naik perkereta-apian. Kalo masih hidup, Aristotles pasti setuju. Btw, yanbo masih kuliah? Di mana? Sudah ikut kuliah logika?

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.